Semangat Padangguni di Expo 2025: Inovasi Desa Bergerak untuk Konawe

waktu baca 3 menit
Selasa, 11 Nov 2025 04:39 1844 Admin KS

KONAWESATU.COM | Ada yang berbeda dari wajah Kecamatan Padangguni di tahun 2025 ini. Dikenal sebagai Kampung Durian, wilayah yang subur di Kabupaten Konawe ini kini tampil dengan misi baru: menjadi lumbung pangan Konawe.

Momentum itu tampak jelas dalam gelaran Expo Inovasi Desa Tahun 2025, ketika 11 desa di kecamatan ini bersatu memamerkan beragam inovasi unggulan yang menggambarkan kemandirian, kreativitas, dan semangat gotong royong warganya.

blank

Setiap desa membawa kebanggaannya sendiri. Ada yang menampilkan hasil hortikultura segar langsung dari kebun, ada pula yang memamerkan camilan lokal dan kerajinan tangan unik yang lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat desa. Nuansa pameran terasa hidup dan berwarna pengunjung seolah diajak berjalan dari satu potret desa produktif ke potret lainnya.

Tanaman hijau menghiasi area pameran, aroma buah-buahan segar berpadu dengan wangi olahan lokal. Di balik keceriaan itu, terselip optimisme besar: Padangguni tengah menata langkah menjadi motor ketahanan pangan Konawe.

blank

Camat Padangguni, Darmawan, menegaskan bahwa Expo bukan sekadar ajang pamer hasil produksi desa, melainkan cerminan semangat masyarakat dalam mendukung program pembangunan yang digagas Bupati Konawe, Yusran Akbar, bersama Wakil Bupati Syamsul Ibrahim.

“Seluruh desa di Kecamatan Padangguni sangat antusias sejak hari pertama pameran hingga kini. Ini menunjukkan Padangguni siap mendukung program pemerintah daerah menuju Konawe Bersahaja,” ungkapnya dengan semangat, Selasa malam (19/11).

blank

Lebih jauh, Darmawan mengungkapkan bahwa semangat ini sejalan dengan visi nasional, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung Presiden Prabowo. Dalam skema besar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kecamatan Padangguni kini diklasifikasikan menjadi empat wilayah produksi strategis yang saling melengkapi.

Desa Padang Mekar dan Padangguni ditetapkan sebagai sentra produksi daging.
Desa Matanggorai, Alosika, dan Mekar Jaya menjadi pusat hortikultura dengan komoditas unggulan seperti jeruk, durian, mangga, salak, dan duku.

blank

Sementara Langgea, Aleuti, dan Garuda diarahkan menjadi kawasan wisata agro batu lapis serta penghasil buah semangka dan sayuran segar.
Adapun Matahori, Sambaosu, dan Atodopi difokuskan untuk produksi protein seperti telur dan ikan air tawar, sekaligus dikembangkan menjadi kawasan wisata air jatuh Andawe dan wisata buah.

“Di Desa Atodopi, kini telah dibangun empang percontohan sebagai langkah konkret memperkuat ketahanan pangan lokal. Semua hasil hortikultura dan peternakan Padangguni nantinya akan menjadi bahan utama pemenuhan kebutuhan SPPG,” jelas Darmawan.

blank

Langkah besar ini bukan hanya tentang pangan, tapi juga tentang perubahan pola pikir. Masyarakat Padangguni kini tak lagi sekadar bertani dan beternak, mereka berinovasi, beradaptasi, dan membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Kehadiran Kecamatan Padangguni di Expo Inovasi Desa 2025 menjadi bukti bahwa desa-desa kini bergerak dinamis dari desa yang memproduksi untuk bertahan, menjadi desa yang memproduksi untuk berdaya.

Dari durian hingga duku, dari sayur hingga ikan, dari ide sederhana hingga inovasi berkelaPadangguni menegaskan dirinya siap menjadi jantung pangan Konawe, sebuah langkah nyata menuju masa depan yang lebih Bersahaja, dari desa untuk Konawe, dan dari Konawe untuk Indonesia.

Laporan: Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA