
KONAWESATU.COM – Di sudut perempatan jalan poros di Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe, berdiri sebuah kios kecil berukuran sekitar 2×4 meter. Dari luar, tak tampak istimewa. Hanya spanduk bekas tergantung sebagai penahan panas dan hujan. Namun siapa sangka, di dalam ruang sempit itu, tersimpan kisah perjuangan yang begitu pilu, kisah seorang ibu tua dan anaknya yang lumpuh sejak lahir, berjuang hidup dalam keterbatasan yang nyaris tak terbayangkan.
Namanya Rusni, seorang janda tua yang kini nyaris tak berdaya setelah lebih dari satu dekade menderita stroke. Meski separuh tubuhnya tak lagi berfungsi seperti sedia kala, semangat hidupnya masih menyala. Di kios reyot itulah, ia berjualan makanan ringan dan minuman botol untuk menyambung hidup.

Putranya, yang berumur 42 tahun adalah satu-satunya yang ia miliki, namun sejak lahir telah mengalami cacat di kedua kakinya. Tak ada ranjang empuk, tak pula kursi roda yang bisa digunakan. Lantai tanah itulah tempat mereka berbagi semua aktivitas makan, tidur, dan menjajakan dagangan.
Saat tim Konawesatu.com mengunjungi kios sempit tersebut, Rusni tak mampu menahan air mata. Pertanyaan tentang kesehatannya dijawab dengan suara terbata-bata, antara lemah dan haru. “Saya kena stroke sudah sepuluh tahun.Tapi tetap saya jualan.” ucapnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Rahmatia, tetangga yang selama ini setia membantu, menuturkan bahwa kehidupan Rusni dan anaknya sudah demikian sejak dulu. “Beliau tinggal di sini sejak 1980-an. Hidup mereka bergantung penuh dari kios itu. Anaknya sejak lahir sudah tidak bisa berjalan,” ujarnya.
Meski memiliki sepetak sawah, Rusni dan anaknya tak mampu mengolahnya. Lahan itu kini dikelola orang lain, dan hasilnya dibagi dua. Tapi tentu saja, itu tidak cukup untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari.

“Anaknya pernah dapat kursi roda dari Dinas Sosial. Tapi bagaimana bisa dipakai kalau lantainya saja masih tanah dan ruangnya sempit? Kursi itu hanya jadi pajangan. Mereka tidur di antara dagangan,” ucap Rahmatia haru.
Pemerintah memang hadir dalam bentuk bantuan sosial. Rusni tercatat sebagai penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan sang anak memperoleh BLT Desa. Namun, seperti mengobati luka dengan kapas tipis, bantuan itu jauh dari cukup untuk memenuhi kehidupan layak bagi dua insan yang terkungkung dalam kondisi fisik yang serba lemah.
Rahmatia mengungkapkan kekhawatiran terbesar mereka jika suatu hari kios tempat ibu dan anak ini tinggal harus digusur seperti informasi yang mereka terima.” Mereka punya tanah di tengah sawah. Tapi itu tak mungkin dihuni. Apalagi untuk ibu tua dan anaknya yang lumpuh. Mereka butuh tempat yang layak,” ungkap Rahmatia.
Kini, harapan tinggal pada kepedulian kita semua. Pemerintah, lembaga sosial, maupun para dermawan mereka butuh uluran tangan nyata, bukan sekadar simpati. Sebuah rumah sederhana yang layak, bukan mewah. Tempat beristirahat yang tenang, bukan kios yang terbuka. Dan yang paling penting, kehidupan yang lebih manusiawi di usia senja.
Laporan:RedaksiÂ
Tidak ada komentar