
KONAWESATU.COM | Madrasah di Kabupaten Konawe siap untuk menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Menteri Agama RI KH. Nasaruddin Umar. Kurikulum ini dirancang untuk memperkuat karakter peserta didik, menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak, serta menanamkan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Konawe, H Hasrun Taleo,S.Pd.I, M.Pd menjelaskan bahwa persiapan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta atau KBC sudah dimulai sejak 2025 dengan berbagai kegiatan pelatihan dan workshop.

“Kemarin kita sudah melaksanakan Bimtek dan workshop terkait gagasan luar biasa dari Pak Menteri tentang Kurikulum Berbasis Cinta yang berlaku khusus untuk Madrasah dan Menjadi salah satu pendekatan pada pembelajaran Pendidikan Agama disekolah Umum. Alhamdulillah sekarang sudah tahap-tahap persiapan semuanya,” ungkap Hasrun.
Ia menambahkan, Kemenag pusat menunjuk beberapa madrasah sebagai pilot project sebelum diberlakukan secara luas. “Kurikulum Berbasis Cinta ini memang sudah diluncurkan, tapi belum semua madrasah menerapkan. Untuk sementara hanya dipilih beberapa madrasah sebagai percontohan,” katanya.

Menurut Hasrun Taleo, KBC tidak dimaksudkan untuk mengganti kurikulum Merdeka yang sudah ada, KBC bukanlah pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan sebuah pendekatan pendidikan yang dapat digunakan bersamaan dengan Kurikulum Merdeka untuk membentuk karakter siswa yang lebih baik. Kurikulum ini hadir untuk memastikan lingkungan belajar di Madrasah terbebas dari kekerasan fisik, sekaligus membangun karakter siswa secara holistik, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Dimana dalam penerapannya, KBC menekankan pada lima nilai utama yang disebut Panca Cinta, yaitu cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara.

Nilai-nilai inilah yang akan menjadi dasar dalam pembentukan karakter anak di madrasah. Dan sejak lama madrasah sudah mengembangkan pendidikan agama, komunikasi lintas iman, dan pendidikan karakter. KBC hadir untuk menyempurnakan itu semua.
“Kalau di Sulawesi Tenggara, termasuk Konawe, sampai sekarang belum ada madrasah yang menerapkan Program KBC. Saat ini guru-guru masih fokus mengikuti berbagai pelatihan. Bahkan baru-baru ini dilaksanakan kegiatan di Kota Kendari, yang mengumpulkan guru-guru madrasah negeri maupun swasta terkait persiapan KBC, kemungkinan efektif nya tahun 2026 mendatang” jelasnya.
Hasrun berharap KBC dapat menjadi jalan lahirnya generasi emas di masa depan. Dengan adanya Panca Cinta yakni cinta kepada Allah, sesama, ilmu, lingkungan, serta bangsa dan negara, anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak baik, serta peduli pada lingkungannya. Insya Allah pada tahun 2045 nanti, mereka akan menjadi bagian dari Indonesia Emas.
Ia menegaskan kembali, madrasah di Konawe sudah sangat siap untuk mengimplementasikan kurikulum ini. “Petunjuk teknis dan panduannya sebenarnya sudah ada, bahkan sudah diluncurkan oleh Kemenag beberapa bulan lalu, kita tinggal menunggu waktu,” pungkasnya.
Program kurikulum berbasis cinta ini juga diharapkan menjadi kontribusi nyata madrasah dalam mendukung visi Indonesia Emas tahun 2045.
Laporan:Redaksi
Tidak ada komentar