Anggoro dan Cerita Gotong Royong yang Tak Lekang Zaman

waktu baca 2 menit
Sabtu, 22 Agu 2026 03:46 371 Admin KS

KONAWESATU.COM | Di tengah hamparan persawahan yang menjadikan Desa Anggoro, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe, dikenal sebagai salah satu desa penghasil padi, ada tradisi lain yang tak kalah kuat: gotong royong.

Bagi masyarakat Desa Anggoro, kebersamaan bukan sekadar nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia tumbuh dalam keseharian dan terlihat nyata ketika warga membutuhkan bantuan, termasuk saat membangun rumah.

Tua dan muda turun bersama. Ketika salah seorang warga mendirikan rumah, masyarakat datang membawa tenaga dan semangat. Ada yang mengangkat material, mengerjakan bagian bangunan, hingga membantu menyiapkan berbagai kebutuhan selama proses pembangunan.

blank

Tidak ada batasan usia dalam pekerjaan itu. Warga yang lebih tua dan generasi muda saling melengkapi. Pekerjaan yang berat pun terasa lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama-sama.

Tradisi tersebut menjadi gambaran kuat kehidupan sosial masyarakat Desa Anggoro. Di sela-sela kesibukan sebagai masyarakat agraris dan petani padi, warga tetap meluangkan waktu untuk membantu sesama.

Gotong royong juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga. Sambil bekerja, mereka bercengkerama dan bertukar cerita. Suasana kekeluargaan terasa begitu kuat, seolah pembangunan sebuah rumah bukan hanya menjadi urusan pemiliknya, tetapi menjadi tanggung jawab bersama sebagai bagian dari kehidupan kampung.

blank

 

Bagi generasi muda, keterlibatan dalam kegiatan seperti ini menjadi cara sederhana untuk menjaga warisan sosial masyarakat. Mereka belajar bahwa hidup di desa bukan hanya tentang bekerja untuk kepentingan keluarga, tetapi juga tentang hadir ketika orang lain membutuhkan.

Desa Anggoro pun memiliki dua kekuatan yang berjalan beriringan. Hamparan sawah menjadi sumber kehidupan dan penghidupan masyarakat, sementara gotong royong menjadi kekuatan sosial yang menjaga hubungan antarwarga tetap erat.

Rumah-rumah yang berdiri melalui kerja bersama akhirnya menyimpan cerita lebih dari sekadar bangunan. Di dalamnya ada jejak kebersamaan, kepedulian dan tangan-tangan warga yang dengan sukarela membantu sesamanya.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Desa Anggoro membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan tradisi. Selama semangat saling membantu tetap hidup, gotong royong akan terus menjadi ciri khas desa penghasil padi ini.

Laporan:RedaksiĀ

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA