
Konawesatu.com | Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi pusat pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak Nasional yang digelar Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Desa Kumapo, Jumat (31/7/2026). Kegiatan yang berlangsung serentak di 25 provinsi itu menargetkan penanaman padi seluas 50.000 hektare sebagai bagian dari percepatan peningkatan produksi pangan nasional menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Ida Widi Arsanti, Sekretaris Daerah Konawe Ferdinand Sapan, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari Muhammad Harliansyah, Dandim 1417/Kendari Letkol Arm Danny Girsang, para penyuluh pertanian lapangan (PPL), kepala desa, serta sejumlah pejabat lainnya.
Sekretaris Daerah Konawe Ferdinand Sapan mengatakan, Pemerintah Kabupaten Konawe terus memperkuat sektor pertanian melalui program intensifikasi, optimalisasi lahan, pengembangan cetak sawah, serta peningkatan jaringan irigasi.
Namun, menurut dia, masih terdapat sejumlah kendala dalam pelaksanaan program cetak sawah. Salah satunya, sebagian lahan yang telah dibangun belum memiliki elevasi yang sesuai sehingga belum dapat dialiri air secara optimal.
“Potensi sumber air sebenarnya sangat besar. Bendung Wawotobi mampu mengairi sekitar 18.000 hektare lahan, sedangkan Waduk Ameroro memiliki potensi hingga 35.000 hektare. Tantangannya adalah belum seluruh kawasan pertanian dapat dijangkau karena kondisi geografis,” ujar Ferdinand.
Ia menilai pembangunan sistem irigasi yang terintegrasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Konawe.
Selain persoalan irigasi, Ferdinand mengungkapkan masih terdapat tantangan lain, seperti keterbatasan benih unggul, minimnya alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga berkurangnya minat masyarakat untuk bekerja di sektor pertanian.
Menurut dia, penggunaan benih yang sama secara terus-menerus membuat hasil panen belum optimal. Bahkan, potensi kehilangan produksi diperkirakan mencapai 4 hingga 5 ton gabah per hektare dibandingkan hasil yang seharusnya dapat dicapai.
Sementara itu, ketersediaan alsintan juga baru mampu memenuhi sekitar separuh dari kebutuhan petani sehingga mekanisasi pertanian belum berjalan maksimal.
Ferdinand berharap harga gabah yang saat ini mencapai Rp6.500 per kilogram dapat menjadi insentif bagi petani untuk tetap mengembangkan usaha tani.
Ia juga mengingatkan agar lahan hasil program cetak sawah tidak dialihfungsikan karena dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Ida Widi Arsanti menegaskan bahwa keberhasilan Gerakan Tanam Serempak sangat bergantung pada pendampingan yang dilakukan penyuluh pertanian lapangan.
“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal,” kata Ida.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi potensi El Nino berdasarkan prakiraan BMKG melalui program pompanisasi agar ketersediaan air tetap terjaga selama musim tanam.
Menurut Ida, pemerintah menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari IP200 menjadi IP300 sebagai salah satu strategi meningkatkan produksi pangan nasional.
“Target kita bukan hanya mempertahankan IP200, tetapi meningkat menjadi IP300. Di sisi lain, harga gabah juga harus tetap menguntungkan petani agar semangat menanam terus terjaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, lahan yang telah masuk dalam program Optimalisasi Lahan (Oplah), cetak sawah rakyat, maupun program CSR tidak boleh dialihfungsikan dan harus dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah menargetkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare melalui penerapan intensifikasi pertanian berbasis agribisnis modern dengan pendampingan yang berkesinambungan dari penyuluh pertanian.
“Saya berharap para penyuluh pertanian tidak pernah lelah mendampingi petani agar produktivitas terus meningkat dan target swasembada pangan dapat tercapai,” kata Ida.
Laporan:Redaksi
Tidak ada komentar