
KONAWESATU.COM | Pagi itu suasana di Desa Anggoro, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe terasa berbeda. Wajah-wajah haru bercampur bahagia tampak di antara keluarga yang berkumpul melepas keberangkatan para calon jamaah haji musim 2026. Dengan pakaian seragam haji lengkap dan koper sederhana di tangan, sekitar 10 kepala keluarga (KK) bersiap menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci Mekkah.
Tangis keluarga pecah perlahan saat satu per satu jamaah berpamitan. Ada pelukan hangat, doa-doa lirih, hingga pesan sederhana agar tetap menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji. Bagi masyarakat desa, momen itu bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan suci yang telah lama diimpikan.
Di balik keberangkatan tersebut, tersimpan cerita tentang kerja keras masyarakat desa yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sawah dan hasil pertanian. Desa Anggoro memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi di Kecamatan Abuki.

Hamparan sawah yang terbentang luas menjadi sumber penghidupan warga dari generasi ke generasi. Setiap musim tanam, para petani harus berjibaku dengan panas matahari, lumpur sawah, hingga cuaca yang tak menentu. Namun dari hasil pertanian itulah, sedikit demi sedikit mereka menyisihkan rezeki demi mewujudkan impian menuju Baitullah.
Bagi warga Anggoro, ibadah haji bukan sesuatu yang datang secara instan. Ada perjuangan panjang yang dijalani selama bertahun-tahun. Hasil panen dijaga, pengeluaran dihemat, dan tabungan haji dikumpulkan perlahan sampai akhirnya nama mereka dipanggil untuk berangkat.
Salah seorang keluarga jamaah mengaku tak pernah menyangka hasil bertani mampu membawa mereka sampai ke Tanah Suci. Baginya, sawah bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup.
“Kalau kita tekun bekerja dan rajin menabung, insya Allah ada jalannya. Dari sawah inilah kami bisa memenuhi panggilan Allah,” ucapnya.
Keberangkatan jamaah haji asal Desa Anggoro tahun ini pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi, warga desa membuktikan bahwa sektor pertanian tetap mampu menjadi penopang kehidupan sekaligus membawa harapan besar bagi keluarga.
Suasana kebersamaan juga begitu terasa. Tetangga, kerabat, hingga tokoh masyarakat turut hadir memberikan doa dan dukungan. Mereka berharap seluruh jamaah diberikan kesehatan, kemudahan selama beribadah, dan kembali ke kampung halaman dengan predikat haji dan hajjah mabrur.
Bagi masyarakat Anggoro, perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya tentang kemampuan ekonomi, melainkan tentang keyakinan, kesabaran, dan ketekunan menjalani hidup. Dari lumpur sawah yang melekat di kaki para petani, lahir doa-doa yang akhirnya sampai ke Baitullah.
Musim haji 2026 pun menjadi pengingat bahwa di desa kecil penghasil padi itu, keberkahan tidak hanya tumbuh dari bulir-bulir padi yang menguning, tetapi juga dari harapan dan impian warga yang perlahan menjadi kenyataan. Red
Tidak ada komentar