KONAWESATU.COM | Pelataran STQ Unaaha berubah menjadi lautan warna dan semangat selama sepekan pelaksanaan Expo Inovasi Desa Konawe Tahun 2025. Ratusan stan dari 291 desa di Kabupaten Konawe menampilkan ragam potensi unggulan mulai dari kuliner, kerajinan, hingga pariwisata desa.
Acara yang digelar oleh Pemerintah Daerah Konawe ini resmi ditutup pada Selasa malam (11/11) oleh Kepala Dinas DPMD Provinsi Sulawesi Tenggara, disaksikan langsung oleh Bupati Konawe H. Yusran Akbar, ST, Wakil Bupati Syamsul Ibrahim, Ketua DPRD I Made Asmaya, dan Ketua Dekranasda Hj. Hania.

Suasana penutupan berlangsung meriah, sorak penonton menjadi warna tersendiri ketika panitia mengumumkan 10 desa terbaik dalam kategori Inovasi Produk Unggulan UMKM dan Pariwisata serta Stand Favorit.
Dari deretan desa terbaik itu, tiga desa dari Kecamatan Tongauna berhasil mencuri perhatian: Desa Momea, Desa Lalonggowuna, sebagai desa terbaik kategori Produk Unggulan UMKM dan Pariwisata serta Desa Ambepulu yang dinobatkan sebagai stand terfavorit

Desa Momea tampil menonjol dengan nuansa merah mencolok, warna yang ternyata memiliki makna tersendiri bagi warganya. “Momea itu artinya merah, jadi kami ingin menunjukkan semangat desa kami,” ujar Kepala Desa Jumar Lakarama sambil tersenyum. Di stand mereka, pengunjung disambut aroma gurih keripik batang talas dan sambal cumi khas Momea, yang dikemas modern namun tetap mempertahankan cita rasa tradisional.
Tak kalah unik, Desa Lalonggowuna tampil hangat dengan ornamen bambu kuning keemasan yang menghiasi seluruh sisi stand. Di dalamnya, deretan kerajinan tangan, hasil bumi, dan pangan lokal tertata rapi. Kepala Desa Asmada mengatakan, desain bambu itu menggambarkan sarat dengan alam serta filosofi masyarakatnya yang kuat, lentur, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Sementara itu, Desa Ambepulu menjadi pusat perhatian dengan tampilan yang paling lembut di antara semuanya. Warna pink mendominasi dekorasi stand, melambangkan keramahan dan kesejukan warga. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Erliyanti, desa ini tidak hanya menampilkan produk UMKM, tetapi juga menampilkan saung bambu kecil yang nyaman dikunjungi, sehingga wajar jika dinobatkan sebagai stand favorit.
Di sela-sela acara penutupan pameran, pengunjung dari berbagai kecamatan tampak antusias berburu produk lokal. Pedagang makanan dan minuman di sekitar lokasi pun kebanjiran pembeli. “Kalau malam ramai sekali, kita sampai kewalahan melayani pembeli” kata salah seorang pedagang.

Menurut Bupati Konawe Yusran Akbar, expo tahun ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang pergerakan ekonomi rakyat. Ia menegaskan, efek ekonomi dari kegiatan ini benar-benar terasa. Banyak UMKM desa mencatat peningkatan penjualan, bahkan sebagian pengrajin menerima pesanan hingga berminggu-minggu ke depan.
“Ini bukan teori ekonomi di atas kertas, tapi efek berganda yang nyata dirasakan masyarakat,” ujar Yusran dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga memperkuat transfer pengetahuan antar-desa, di mana desa maju berbagi pengalaman dengan desa lain yang sedang tumbuh.” Sambutnya.
Di luar kemeriahan lomba dan penilaian, Expo Inovasi Desa 2025 juga menjadi ajang silaturahmi. Para kepala desa, pelaku UMKM, hingga karang taruna dari pelosok desa saling bertukar ide dan pengalaman. Banyak pula pengunjung yang sekadar datang untuk berfoto di spot-spot kreatif, seperti gerbang bambu, taman mini, dan stand kuliner khas Konawe yang dipenuhi aroma menggoda.
Menutup sambutannya , Bupati Konawe. Yusran Akbar menegaskan bahwa Expo Inovasi Desa merupakan bagian dari langkah besar menuju visi “Konawe Bersahaja” Berdaya Saing, Sejahtera, Adil, dan Berkelanjutan. Ia juga menyebut kegiatan ini sejalan dengan program unggulan Pemprov Sulawesi Tenggara, SAMUDRA (Semua Mudah Dapat Kerja).
“Kami akan terus mendorong desa-desa agar mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Expo ini hanyalah awal dari perjalanan panjang Konawe menuju kemajuan,” pungkasnya.
Laporan:RedaksiÂ
Tidak ada komentar