Aroma kotoran kelelawar yang menyengat menusuk hidung, seolah menjadi pengingat bahwa bangunan ini tak layak disebut sebagai tempat belajar.Konawesatu.com- Di balik hijaunya perbukitan dan hamparan persawahan di Desa Anggoro, terdapat sebuah sekolah dasar negeri yang menjadi satu-satunya harapan pendidikan bagi anak-anak di desa tersebut, SDN Anggoro. Namun, siapa sangka, di balik semangat anak-anak menimba ilmu, tersimpan potret keprihatinan yang begitu mendalam.
Untuk mencapai SDN Anggoro yang terletak di Desa Anggoro bukan perkara mudah. Jalan untuk masuk Desa Anggoro begitu terjal dan licin, terlebih saat musim hujan datang. Tak sedikit guru dari luar desa yang kesulitan bahkan tak bisa masuk karena medan yang tak bersahabat.

Namun tantangan itu tak sebanding dengan kondisi bangunan sekolah yang kini memprihatinkan. Saat tim kami berkunjung hari ini, pemandangan memilukan langsung menyambut. Plafon ruang kantor hingga beberapa ruang kelas telah roboh. Aroma kotoran kelelawar yang menyengat menusuk hidung, seolah menjadi pengingat bahwa bangunan ini tak layak disebut sebagai tempat belajar.
Sang kepala sekolah, Sukmar Manaf yang tengah mendampingi ujian sekolah, tampak kebingungan menerima kedatangan kami. Ruang kantor yang seharusnya menjadi tempat menyambut tamu dan menjalankan administrasi sekolah, justru palpon ruangan sudah ambruk, ruang sempit tersebut sudah tidak layak huni terkesan jauh dari penyebutan “kantor”.
“Beginilah kondisinya. Kami sebenarnya tidak punya ruang kantor. Bangunan ini hanya hasil swadaya masyarakat,” ujarnya dengan nada pasrah.
Lebih miris lagi, usulan pembangunan gedung baru yang pernah diajukan tak kunjung terealisasi. Harapan yang digantung tinggi justru pupus di tengah jalan. Ketika ditanyakan alasan penundaan, jawabannya pun menggantung: sekolah ini terkena ‘dampak’. Tapi dampak apa yang dimaksud? Pembangunan Waduk Pelosika? Tak ada penjelasan pasti.
Di tengah ketidakpastian itu, satu hal yang pasti anak-anak Desa Anggoro tak pernah berhenti bermimpi. Mereka tetap datang ke sekolah dengan semangat, walau dengan kondisi sarana dan prasarana yang minim, menemani langkah kecil mereka meraih masa depan.
Kini, masyarakat dan siswa SDN Anggoro hanya bisa berharap kepada sosok Pemimpin Baru agar dapat memerhatikan Sekolah tersebut, sebab pendidikan tak seharusnya tumbuh di atas puing dan kotoran. Pendidikan butuh ruang yang layak tempat yang pantas bagi mimpi anak-anak desa terpencil.
Laporan:Redaksi
Tidak ada komentar