BPS mencatat Konawe mengalami deflasi sebesar 0,44 persen secara month-to-month (mtm). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat 3,88 persen.KONAWESATU.COM |Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mencatat tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) terendah di Sulawesi Tenggara selama delapan bulan berturut-turut, sejak Januari hingga Agustus 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Kabupaten Konawe pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,48 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Tenggara.
Pada periode yang sama, inflasi Sulawesi Tenggara tercatat 3,35 persen. Kota Kendari menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni 3,66 persen, disusul Kabupaten Kolaka 3,60 persen dan Kota Baubau 3,12 persen.

Capaian Konawe tersebut melanjutkan tren sejak awal 2026. Pada Januari, inflasi Konawe tercatat 3,79 persen, kemudian turun menjadi 3,57 persen pada Februari dan 1,81 persen pada Maret.
Angka tersebut kembali tercatat 1,61 persen pada April, 2,59 persen pada Mei, 2,12 persen pada Juni, dan mencapai titik terendah 1,49 persen pada Juli.
Pada Agustus, inflasi tahunan Konawe naik menjadi 2,48 persen, namun tetap menjadi yang terendah di Sulawesi Tenggara.

Selain mencatat inflasi tahunan terendah di Sultra, Konawe mengalami deflasi secara bulanan pada Agustus 2026.
BPS mencatat Konawe mengalami deflasi sebesar 0,44 persen secara month-to-month (mtm). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) tercatat 3,88 persen.
Inflasi tahunan Agustus 2026 juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus 2025, inflasi Konawe tercatat sebesar 4,97 persen.

Sejumlah kelompok pengeluaran menjadi penyumbang inflasi tahunan di Konawe. Kelompok transportasi memberikan andil terbesar sebesar 0,76 persen, disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,41 persen serta perlengkapan rumah tangga sebesar 0,40 persen.
Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar antara lain minyak goreng sebesar 0,37 persen, sigaret kretek mesin (SKM) 0,30 persen, pelumas atau oli mesin 0,27 persen dan bensin 0,22 persen.
Sementara itu, deflasi bulanan pada Agustus antara lain dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti kangkung, tomat, ikan gabus dan bayam.
Bupati Konawe H. Yusran Akbar mengatakan, pengendalian inflasi membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pelaku usaha dan masyarakat.
“Pengendalian inflasi adalah kerja kolaborasi yang harus terus kita jaga. Ini prestasi bersama seluruh elemen daerah,” kata Yusran di Unaaha, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, pemerintah daerah menjalankan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.
Langkah tersebut antara lain menjaga ketersediaan bahan pangan melalui pengawalan produksi dan panen, memastikan dukungan terhadap sektor pertanian, serta membantu distribusi sejumlah komoditas yang masih didatangkan dari luar daerah.
Pemerintah Kabupaten Konawe juga mendorong aktivitas ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM dan penyelenggaraan berbagai kegiatan ekonomi.
Selain itu, koordinasi dilakukan bersama Perum Bulog, distributor, pelaku usaha dan instansi terkait untuk memantau ketersediaan serta distribusi barang.
Secara bulanan, seluruh wilayah di Sulawesi Tenggara mengalami deflasi pada Agustus 2026.
Konawe mencatat deflasi sebesar 0,44 persen. Angka tersebut menjadi deflasi tertinggi kedua di Sulawesi Tenggara pada periode tersebut.
Dari sisi inflasi tahun kalender hingga Agustus 2026, Kabupaten Kolaka tercatat sebesar 4,37 persen, Kota Baubau 4,25 persen, Sulawesi Tenggara 4,02 persen, Konawe 3,88 persen dan Kota Kendari 3,84 persen.
Stabilitas harga pangan turut menjadi salah satu faktor yang mendukung terkendalinya inflasi di Konawe.
Pada Juli 2026, kelompok makanan, minuman dan tembakau tercatat mengalami deflasi tahunan sebesar 0,65 persen. Pada Agustus, kelompok tersebut kembali mengalami deflasi secara bulanan sebesar 1,66 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,73 persen.
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan tersebut antara lain berkaitan dengan ketersediaan pasokan hasil pertanian lokal di pasar.
Pemerintah Kabupaten Konawe juga terus mendorong daerah tersebut sebagai salah satu wilayah penyangga pangan, termasuk melalui peningkatan produksi pertanian dan ketersediaan beras.
Dengan pengendalian harga dan pasokan yang terus dilakukan, Konawe mempertahankan tingkat inflasi tahunan terendah di Sulawesi Tenggara hingga Agustus 2026.
Laporan :RedaksiĀ
Tidak ada komentar