Dugaan Keracunan Siswa SMA 20 Konawe, Keterangan BGN dan Sekolah Berbeda

waktu baca 3 menit
Jumat, 25 Sep 2026 03:37 377 Admin KS

KONAWESATU.COM | Dugaan gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa SMA Negeri 20 Konawe, Kecamatan Tongauna, Sulawesi Tenggara, setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (24/9/2026), memunculkan perbedaan keterangan antara Badan Gizi Nasional (BGN) Konawe dan pihak sekolah.

Koordinator Wilayah BGN Konawe, Nopri Al Ikmansyah, menyebut hasil peninjauan awal menemukan dugaan kelalaian serta persoalan komunikasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pihak sekolah.

Menurut Nopri, seorang guru sempat mencicipi makanan MBG sebelum dibagikan kepada siswa. Guru tersebut disebut mengalami rasa gatal, namun makanan tetap didistribusikan.

“Adanya miskomunikasi antara pihak guru dan SPPG. Berdasarkan hasil peninjauan kami di lapangan, pihak guru ini sudah mencoba makanan tersebut dan merasa gatal, tetapi guru ini dalam pengertiannya jangan sampai cuma dia yang merasa gatal-gatal, makanya tetap didistribusikan,” ungkap Nopri, Kamis (24/9/2026).

Namun, keterangan tersebut mendapat klarifikasi dari Kepala SMA Negeri 20 Konawe, Agustan.

Agustan menjelaskan, proses pengecekan makanan oleh guru memang dilakukan setiap hari sebelum menu MBG dibagikan kepada siswa.

Menurutnya, makanan terlebih dahulu dibawa ke ruang perpustakaan untuk dicicipi. Saat mencicipi makanan tersebut, kata Agustan, guru belum merasakan adanya reaksi.

“Setelah guru itu mencicipi di ruang perpustakaan, saat mencicipi menu MBG tersebut tidak ada reaksi. Kemudian guru itu bergeser ke ruangan kantor, jaraknya sekitar dua menit, sementara makanan sudah terbagi kepada siswa,” jelas Agustan.

Guru Baru Merasakan Gatal di Ruang Kantor

Agustan mengatakan, guru tersebut baru mengeluhkan rasa gatal pada lidah setelah berpindah ke ruang kantor.

Setelah mendengar keluhan tersebut, pihak sekolah kemudian mengumumkan kepada siswa agar segera melapor apabila mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan.

“Setelah dari perpustakaan guru tersebut mengeluh lidahnya gatal-gatal. Pada saat dia mengeluh, diumumkanlah kepada seluruh siswa bahwa apabila ada yang merasa kecenderungan keracunan makanan segera melapor. Tidak lama berdatangan siswa satu per satu melapor,” kata Agustan.

Menurut Agustan, pengumuman tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar siswa yang belum mengonsumsi makanan tidak melanjutkan makan.

“Setelah diumumkan banyak yang tidak makan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, sebagian makanan belum sempat dikonsumsi siswa ketika pengumuman disampaikan.

“Justru kami yang mengeliminir jumlah korban karena beberapa makanan belum sempat dikonsumsi siswa,” tegasnya.

Penyebab Masih Menunggu Pemeriksaan

Sebelumnya, puluhan siswa SMA Negeri 20 Konawe dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG pada Kamis (24/9/2026).

Para siswa kemudian mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis di rumah sakit.

Informasi terakhir menyebutkan seluruh siswa yang menjalani perawatan di RS Konawe telah diperbolehkan pulang. Sementara satu siswa masih menjalani perawatan di RS Setia Bunda.

Hingga saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa belum dapat dipastikan.

Perbedaan keterangan antara BGN dan pihak sekolah terkait proses pengecekan hingga distribusi makanan juga masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Pemeriksaan medis terhadap siswa serta penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

Dengan demikian, dugaan keracunan makanan dalam kasus ini masih menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran dari pihak berwenang. (Rls)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA