
KONAWESATU.COM | Dengan semangat kemandirian dan inovasi lokal, Desa Matahori melangkah mantap menuju Expo Inovasi Desa 2025. Potensi perkebunan dan produk olahan yang dikelola masyarakat menjadi bukti bahwa desa ini tengah bergerak menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Dikenal sebagai desa agraris, Matahori hidup dari tanah yang subur dan tangan-tangan petani ulet. Beragam komoditas tumbuh di sana mulai dari durian dan vanili, hingga karet yang menjadi komoditas andalan.

Dari 84 hektare kebun karet, sekitar 24 hektare kini sudah berproduksi aktif. Setiap bulan, petani mampu menghasilkan 2 sampai 3 kuintal getah karet yang dikirim ke Sulawesi Selatan, menjadikannya salah satu desa penghasil karet potensial di Konawe.
Namun Matahori tak berhenti di situ. Pemerintah desa kini mengembangkan produk olahan lokal bernilai tambah seperti gula aren dan gula madu, yang dikelola oleh kelompok usaha masyarakat. Produk ini mulai diminati pasar karena cita rasanya khas dan menjadi simbol inovasi warga desa.

Foto : istimewa
“Kami ingin menunjukkan bahwa hasil bumi Desa Matahori memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu bersaing di pasar regional. Expo ini adalah kesempatan kami untuk memperkenalkan potensi desa lebih luas,” ungkap Kepala Desa Matahori, Jumran, penuh semangat.
Ia menambahkan, pengembangan produk UMKM menjadi bagian dari strategi desa untuk memperkuat ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal.
“Pasaran gula aren kami sasar ke pasar umum karena peminatnya cukup banyak dan potensinya sangat menjanjikan,” jelasnya.
Dengan semangat kemandirian dan inovasi, Desa Matahori siap hadir di panggung Expo Inovasi Desa 2025. Tak hanya membawa hasil bumi, tetapi juga membawa cerita tentang kerja keras, harapan, dan kebanggaan masyarakat pedesaan Konawe yang terus tumbuh bersama kemajuan.
Laporan:Redaksi
Tidak ada komentar