Murid SDN Lalosabila Antusias mengikuti kegiatan belajar musik bambuKONAWESATU.COM- Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran teknologi digital, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lalosabila, Kabupaten Konawe, tampil beda. Sekolah ini menjadikan musik bambu sebagai kegiatan ekstrakurikuler pilihan yang tak hanya bernilai edukatif, tetapi juga sarat makna pelestarian budaya.
Musik bambu, yang merupakan salah satu warisan budaya tradisional khas daerah, kini kembali hidup dan berkembang di tangan-tangan mungil para siswa SDN Lalosabila. Tak hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler, alat musik ini juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran budaya, selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya kearifan lokal dalam pendidikan.

Irman, S.Pd, guru mata pelajaran Seni Dan Budaya SDN Lalosabila menjelaskan, kegiatan ini dikenalkan kepada siswa sejak duduk di bangku kelas satu.
“Tujuan utama kami adalah memperkenalkan dan menjaga kelestarian budaya lokal, khususnya budaya Tolaki. Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal budaya luar, tetapi juga bangga dan mencintai budaya sendiri. Musik bambu adalah identitas kita,” jelas Irman.
Tak hanya berfokus pada pelestarian budaya, ekstrakurikuler ini juga menorehkan segudang prestasi. Grup musik bambu SDN Lalosabila telah meraih berbagai penghargaan dan mengoleksi piala yang jumlahnya mencapai puluhan.
Prestasi ini membuat mereka kerap diundang untuk tampil dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah daerah, seperti baru-baru ini para murid diundang tampil dalam agenda Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), yang dihadiri pejabat lintas sektor.
Kehadiran musik bambu di SDN Lalosabila menjadi wujud nyata bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan pendidikan modern. Apa yang dilakukan sekolah ini menjadi contoh inspiratif bagi sekolah-sekolah lain dalam menguatkan karakter siswa melalui budaya, sekaligus membuktikan bahwa di balik teknologi, akar tradisi tetap bisa tumbuh kokoh.
LAPORAN:REDAKSIÂ
Tidak ada komentar